Dosen Pengampu : Agung Kuswantoro, S.Pd., M.Pd.
Tempat : C3-324 (Universitas Negeri Semarang)
Hari, tanggal : Selasa, 10 April 2018
Assalamu'alaikum wr. wb.
Pada pertemuan kelima ini, kami melanjutkan pembahasan mengenai konsep manusia. Kami membahas Q.S Al-Baqarah ayat 30 yang artinya "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
malaikat "Sesungguhnya aku hendak menjadikan
seorang khalifah (pengganti) di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau
hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui.”
Allah menyebut makhluk yang akan tinggal di bumi
itu sebagai ‘khalifah’. Khalifah artinya pengganti. Karena makhluk yang akan
tinggal di bumi ini adalah pengganti bagi makhluk sebelumnya. Pertanyaan berkaitan dengan ayat tersebut, mengapa malaikat dapat menyimpulkan bahwa manusia hanya akan merusak dan menumpahkan darah dimuka bumi? Dari pertanyaan ini, dapat ditarik kemungkinan bahwa malaikat telah mengetahui sebelumnya ada makhluk yang karakternya seperti itu. Dengan kata lain, Allah telah menciptakan makhluk lain di bumi sebelum Nabi Adam dan Hawa diturunkan. Hal ini dapat dikaitkan dengan binatang dan manusia purba yang hidup sekitar ratusan juta tahun yang lalu.
Disebutkan dalam Q.S. Luqman ayat 31 yang artinya "Dia menciptakan langit
tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di
permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang
biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari
langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik." Disini menunjukkan bahwa setelah penciptaan bumi,
juga dikembangbiakkan binatang-binatang. Tidak ada yang tahu, binatang yang dimaksud adalah binatang-binatang prasejarah atau binatang-binatang yang kita lihat saat ini. Wallahu a’lam.
Pertanyaan selanjutnya, apakah manusia dan kera berasal dari nenek moyang yang sama seperti dugaan Charles Darwin? Jawaban dari pertanyaan itu beragam. Apalagi di internet saat ini beredar jawaban pro dan kontra yang semakin membingungkan pembacanya. Ada yang menyebutkan manusia hanya berkerabat dekat dengan kera, manusia berasal dari kera adalah pembelokan Yahudi, namun semua itu merupakan pendapat manusia yang sulit diketahui benar tidaknya. Darwin hanya menurut pada logika, bukan pandangan Islam. Benar atau tidaknya Teori Evolusi Darwin masih diperdebatkan. Sampai saat ini, belum ada data yang
bisa mendukung langsung teori ini. Meskipun telah ditemukan fosil-fosil yang menunjukkan perjalanan panjang evolusi manusia, teori ini masih
sulit diterima karena tidak pernah ditemukan rangka utuh dari
makhluk-makhluk prasejarah tersebut. Sangat mungkin Darwin salah. Namun kita sebagai umat muslim tidak seharusnya terlalu berpegang pada teori-teori yang ada, apalagi dari internet. Rujukan muslim haruslah pada Al-Qur'an dan hadits yang sudah jelas keshahihannya.
Ada sebuah cerita berjudul "Mencari Kantor Allah" yang disampaikan oleh Pak Agung Kuswantoro. Dikisahkan Napoleon Bonaparte mengajukan pertanyaan kepada Laplace, seorang astronom Perancis kenamaan. Napoleon bertanya, "Dimanakah Anda menemukan tempat pemeliharaan Tuhan dalam sistem alam raya ini?" Laplace dengan tegas menjawab, "Saya tidak bisa menjawabya." Sayang, pertanyaan Napoleon tidak bisa terjawab oleh ahlinya. Andaikan bisa terjawab, maka pertanyaan serupa tidak akan muncul. Disinilah, perlu ada jawaban yang
memuaskan. Pertanyaan Napoleon Bonaparte itu wajar, namun jawaban Laplace
seperti anak kecil, dimana tidak bisa menjawabnya. Logika sederhananya, jika ada gelas jatuh ke bumi yang telah ia
pecahkan: Apakah harus dijawab dengan teori daya tarik bumi? Jika tidak bisa
dengan teori daya tarik bumi, lalu, adakah teori yang lainnya?
Setelah Laplace tidak bisa menjawab pertanyaan Napoleon
Baonaparte. Konon, harga diri Laplace menjadi berkurang atas keilmuannya.
Sekali lagi, sayang sekali, Laplace tidak menjawabnya. Andaikan ia menjawab
dengan pendekatan teori daya tarik bumi, sah-sah saja. Ada atau tidak adanya
(daya tarik bumi) atas gelas yang jatuh ke bumi dibalik peristiwa tersebut ada
“sesuatu yang diluar kemampuan manusia”. Sesuatu yang mengagumkan. Alam raya
dan isinya adalah keajaiban yang disebutkan oleh Alqur’an yaitu ayat atau
tanda-tanda kekuasaan Allah. Setiap muslim harus percaya akan hal ini.
Ilustrasi, ada orang sakit parah. Ia tidak mau minum obat dan
terapi tradisional. Namun ia sembuh dari penyakitnya. Lalu, apakah kita tidak
percaya? Sebagai orang mukmin harus percaya karena Allah telah menyembuhkannya.
Jadi,
kembali ke pertanyaan di awal. Dimanakah kantor Allah untuk mengatur tata surya
dan sistem kerja alam ini? Saya menjawabnya itu semua kejadian luar biasa yang
menunjukkan keesaan Allah. Hal ni adalah pertanda kuasa-Nya. Semua tanda
tertulis ada di Alqur’an. Kantor Allah atas kejadian ini ada di hati, yaitu
keimanan. Kejadian ini semua adalah luar biasa yang diluar nalar manusia. (Sumber : https://agungbae123.wordpress.com/2018/04/09/mencari-kantor-allah/ )
Kesimpulannya, di dunia ini tidak semua hal dapat dikaitkan dengan logika manusia. Seperti yang saya katakan di tulisan sebelumnya, jika apapun yang ada di dunia ini kita pikirkan dengan logika pasti tidak akan bisa karena dalam Islam tidak semua hal dapat dilogika. Sebagai contoh, mukjizat
tongkat Nabi Musa AS., itu semata-mata kekuasaan Allah. Jika kita pakai melogika, mana mungkin sebuah tongkat yang dipukulkan ke tanah bisa berubah menjadi ular besar dan
dapat memakan ular-ular kecil? Mana ada sebuah tongkat yang dapat membelah
laut kecuali dengan ilmu sihir? Namun, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin jika Allah menghendaki.
Tambahan:
1. Apa maksud dari Bumi diciptakan 6 masa, apakah 6 masa waktu di bumi atau 6 masa dalam arti lain?
Jawab : Ada sejumlah ayat al-Qur’an terkait dengan
penciptaan alam raya yang menyebutkan sittat
ayyaam, ‘enam hari’, yang kemudian dimaknai sebagai ‘enam periode’ atau
‘enam masa’. Antara lain adalah Q.S. al-Furqaan (25): 59, Q.S. as-Sajdah (32):
4, Q.S. Qaaf (50): 38. Ketika menafsirkan Q.S. Qaaf (50): 38, M. Quraish Shihab
dalam al-Mishbaah antara lain menyebutkan bahwa maksud dari kata ‘enam hari’
dalam ayat itu adalah enam masa atau enam periode. Dua hari untuk menciptakan
bumi, dua hari untuk menciptakan aneka manfaat yang terdapat di bumi, dan dua
hari untuk menciptakan langit. Namun, kata yawm ‘bentuk
tunggal dari ayyaam‘ di dalam
al-Qur’an tidak hanya berarti ‘hari’ seperti yang kita ketahui yang terdiri
dari 24 jam. Apalagi ketika al-Qur’an diturunkan masyarakat belum lagi mengenal
konsep jam, menit, dan detik. Yawm di
dalam al-Qur’an ada yang berarti suatu masa yang lamanya 1.000 tahun, ada juga
yang berarti 50.000 tahun, ada juga yang kurang dari itu. Dengan demikian, penciptaan langit dan bumi dalam enam hari dapat kita
pahami dalam arti penciptaannya dalam enam tahapan, seperti yang kita baca di
dalam Tafsir al-Mishbaah di atas. Tidak sedikit yang memahami ayat ini sebagai
isyarat bahwa segala sesuatu di dunia ini ada prosesnya, ada tahapan-tahapannya.
Ingin pintar, harus melalui proses belajar. Ingin sukses, harus melalui proses
usaha keras. Dan seterusnya. Sebenarnya Allah Yang Mahakuasa sungguh sangat
mampu menciptakan langit dan bumi dalam sekejap, dengan hanya mengatakan ‘kun‘ (Q.S. Yaasiin [36]: 82), maka semuanya
pun tercipta: fayakuun. Tetapi
Allah menciptakan semua itu dalam enam periode untuk menunjukkan bahwa segala
sesuatu di dunia ini memerlukan proses. Wallahu a’lam.
2. Ketika Allah melarang
Nabi Adam memakan buah khuldi, Allah dan Nabi Adam dalam posisi yang sangat
dekat, dari kata ‘’Pohon ini’’, dan setelah Nabi Adam melanggar ketentuan Allah
‘’Pohon itu’’. Hikmahnya adalah, apabila kita taat kepada Allah, maka Allah
akan dekat. Dan apabila kita bermaksiat Allah pun akan jauh.
3. Hampir menginjak bulan Ramadhan, muncul pertanyaan "Mengapa masih banyak manusia
yang berbuat maksiat di bulan Ramadhan, padahal syetan dibelenggu?"
Jawaban : Selama 11 bulan lamanya sebelum menginjak bulan Ramadhan, syetan berhasil mentraining manusia untuk menjadi syetan tanpa mengubah wujudnya menjadi seperti syetan.
4. Mengapa masih banyak muslim yang berpacaran padahal sudah jelas dilarang Allah?
Jawaban : Kebanyakan orang mengatakan ketika sudah cinta ya jalani saja. Itu adalah anggapan yang keliru. Ketika cinta itu sudah dijalani (maksudnya ke ranah hubungan pacaran), syetan akan semakin mudah memunculkan nafsu manusia. Akan lebih banyak kemaksiatan lain dengan mengandalkan "terlanjur cinta" sebagai alasan. Maka solusinya, jika kita tahu akan lebih banyak maksiatnya, lebih baik akhiri saja hubungan itu. Jika sudah dianggap mampu, lebih baik segerakan menikah. Jika belum mampu tetapi tidak bisa menahan nafsunya maka berpuasalah.
Sekian yang dapat penulis sampaikan. Kurang lebihnya penulis mohon maaf.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
